Dasar Pembelajaran Bahasa Jepang
Mengetahui Aksara Jepang
1. Huruf Kana
Huruf Kana terdiri dari Hiragana dan Katakana. Kedua-duanya termasuk onsetsu moji, yaitu huruf yang terdiri dari satu suku kata atau silabel yang tidak memiliki arti tertentu. Walaupun demikian, karena kata-kata dalam bahasa Jepang hanya terdiri dari satu suku kata maka kata-kata itu dapat dilambangkan hanya dengan sebuah huruf Kana. Tetapi ada juga benda yang hanya terdiri dari satu suku kata, seperti e=gambar atau ta=sawah.
Oleh karena itu, tidak semua huruf Kana seluruhnya hanya merupakan sebuah suku kata yang tidak memiliki arti. Karena jumlah kata yang dapat ditulis dengan satu huruf Kana sangat terbatas, maka timbul pengertian bahwa masing-masing huruf Kana tidak memiliki arti tertentu.
· Huruf Hiragana
Huruf Hiragana terbentuk dari garis-garis dan coretan-coretan yang melengkung (kyokusenteki). Huruf Hiragana yang digunakan sekarang adalah bentuk huruf yang dipilih dari soogana yang ditetapkan berdasarkan Petunjuk Departemen Pendidikan Jepang tahun 1900.
Sampai sekarang belum ada pendapat yang pasti mengenai pencipta huruf Hiragana. Hal ini dijelaskan oleh Sada Chiaki dalam bukunya Atarashii Kokugogaku bahwa ada pendapat yang menjelaskan pembuat huruf Hiragana adalah Kooboo Daishi. Ntetapi pendapat ini tidak beralasan karena huruf Hiragana tidak dapta dibuat oleh satu orang dalam satu kurun tertentu.
Hiragana digunakan untuk menulis kata-kata bahasa Jepang asli atau menggantikan tulisan Kanji, menulis partikel dan kata bantu kata kerja.
· Huruf Katakana
Huruf Katakana terbentuk dari garis-garis atau coretan-coretan yang lurus (chokusenteki). Huruf Katakana digunakan untuk menulis kata-kata serapan dalam bahasa Jepang, negara asing, nama binatang, nama orang asing, nama tumbuhan dan kota-kota luar negeri.
Pemakaian huruf Katakana dapat juga ditemukan pada bahasa-bahasa telegram. Dalam ilmu fonologi, Katakana biasa digunakan untuk penulisan lambang bunyi atau pengucapan. Katakana digunakan untuk menulis bahasa rahasia (ingo) dan bahasa slang (zokugo).
Selain itu, huruf Katakana sering digunakan pada surat-surat atau buku-buku yang berhubungan dengan perusahaan/perkantoran. Dengan demikian, Katakana juga bisa digunakan untuk menuliskan kata-kata yang sebenarnya bisa dituliskan dengan Hiragana atau Kanji.
2. Huruf Roomaji
Huruf Roomaji/latin termasuk huruf yang melambangkan bunyi, tidak melambangkan arti seperti huruf-huruf Kanji (hyoo-on moji). Perbedaannya, huruf Hiragana dan Katakana termasuk onsetsu moji, yaitu huruf yang melambangkan satuan bunyi, sedangkan huruf Roomaji disebut tan-on moji, yaitu huruf yang melambangkan sebuah fonem.
Pada akhir zaman Muromachi, huruf Roomaji digunakan untuk menuliskan lafal atau hatsuon bahasa Jepang berdasarkan cara pemakaian Roomaji bahasa Portugis. Setelah memasuki zaman Meiji, dipakailah sistem Hepburn, hebon shiki/hyoojunshiki, yaitu sistem penulisan Roomaji berdasarkan cara pemakaian Inggris.
Pada tahun 1886, muncul sistem baru, yaitu Sistem Jepang (nihon shiki). Selanjutnya pada tahun 1937 muncul sistem kunreishiki yang digunakan untuk membandingkan kedua sistem sebelumnya.
Saat ini, digunakan sistem Hepburn untuk pengajaran bahasa Jepang secara umum. Hal ini juga digunakan di Indonesia dalam pengajaran bahasa Jepang. Namun sebenarnya tidak begitu banyak perbedaan di antara ketiga sistem ejaan tersebut.
2. Huruf Kanji
Huruf Kanji digunakan untuk menulis kata-kata dari bahasa Cina atau Jepang yang dapat ditulis dengan huruf Kanji. Penulisan huruf Kanji cukup menyulitkan bagi siswa dan mahasiswa yang belajar bahasa Jepang, terutama bagi mereka yang tidak mengetahui latar belakang budaya Kanji.
Bersamaan dengan masuknya seni budaya serta agama Budha dari Cina, serta merta Kanji pun masuk secara brgelombang dalam periode 2 dinasti, yaitu Dinasti Sui dan Dinasti Tang. Kanji menjadi amat luas pemakaiannya, amat luas daerah penyebarannya, beragam penuturnya, serta berjalan dalam rentangan waktu yang cukup panjang, sehingga mau tidak mau tunduk pada hukum perubahan. Faktor bahasa Jepang serta masyarakatnya sendiri turut berperan dalam perubahan terhadap Kanji sendiri. Kanji sekurang-kurangnya memiliki tiga ragam cara pengucapan, yaitu Kan-on yang digunakan pada zaman Nara abad VII. Go-on, yaitu cara baca yang berasal dari daerah Goetsu, suatu daerah di daratan Cina zaman dahulu. Dan To-on, yang masuk ke Jepang dibawa pedagang Cina pada zaman Kamakura dan Muromachi antara pertengahan abad XII hingga pertengahan abad XVI. Setiba di Jepang menjadi tak terelakkan terhadap perubahan silabel yang ada pada bahasa Jepang. Sehingga tek mengherankan kalau ada perbedaan pelafalan dengan bahasa Jepang sendiri. Misalnya kata Shaolin dalam bahasa Cina dibaca Shorin dalam bahasa Jepang. Tien An Mien menjadi Ten An Mon.
Kanji disebut Ideographic atau hyooi moji. Setiap Kanji memiliki makna, karena Kanji dibuat sebagai ungkapan ide simbolis terhadap kata yang dimaksud. Oleh karena itu, omonen yang terdapat dalam Kanji bisa kita bagi ke dalam tiga bagian. Bentuk, bunyi dan arti/makna.
Agar mudah, huruf Kanji dibagi menurut cara penulisan dan cara bacanya. On-yomi untuk cara membaca Kanji menurut bahasa Cina dan Kun-yomi untuk cara membaca Kanji menurut bahasa Jepang. Cara penulisan huruf Kanji dalam on-yomi ditulis dengan Hiragana, sedangkan kun-yomi ditulis dengan Hiragana. Jumlah on-yomi dan kun-yomi yang ada pada sebuah Kanji sangat bervariasi.
Dalam kamus terbesar yang perenah disusun di Jepang, Kanwa Jiten, terdapat kira-kira 50.000 huruf Kanji. Namun, ada beberapa Kanji yang tidak terdapat dalam kamus karena Kanji tersebut sangat langka sehingga penggunaannya sangat terbatas.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar